Dunia Remaja


Dua cerita fiksi menginspirasi saya untuk menuliskan artikel ini. Pertama, Film “Bond of Silence”. Film ini bercerita tentang sekelompok remaja yang suka hura-hura. Suatu hari mereka mengadakan pesta tahun baru yang kelewatan sehingga mengundang tetangganya untuk datang menegur. Lalu tiba-tiba saja sang tetangga meninggal di tempat itu, dan polisi penyidik membuktikan bahwa ia dibunuh. Semua tutup mulut! Para remaja tersebut dilindungi oleh usia. Mereka bersepakat untuk berahasia, saling menutupi peran demi satu hal yang bernama solidaritas, walau terkadang solidaritas itu membutakan hati nurani!!

Kedua, Novel Tere Liye berjudul “Bidadari-Bidadari Surga”. Sesosok remaja pekerja keras yang sanggup mengorbankan diri untuk ibu dan adik-adiknya.  Sosok remaja yang penuh syukur, ikhlas menjalani takdir serba kekurangan, dengan visi hidup agar adik-adiknya sukses. Sosok remaja yang penuh kasih, melompat ke depan tiga ekor harimau saat adiknya dalam bahaya, berlari menerobos hujan dengan bengkak di mata kaki, dan bertekad untuk tidak pernah menangis, demi memberi kebahagiaan dan janji masa depan untuk adik-adiknya.

Subhanallah… Allah menakdirkan saya untuk berinteraksi dengan banyak remaja di sekolah tempat saya mengajar. Di satu sisi ini adalah ujian berat. Tahun pertama saya bersama mereka, saya kehilangan kontrol diri; tarik ulur masalah peraturan, tugas, dan segalanya membuat saya lelah. Saya berusaha menjadi guru yang ‘diterima’, padahal setelah saya renungi kembali, bukan itu yang mereka butuhkan. Mereka butuh ketegasan hukum, kedisiplinan, kenyataan bahwa mereka adalah bagian dari komunitas yang mempunyai aturan dan konsekuensi yang jelas untuk setiap pelanggarnya.

Di lain sisi, takdir Allah sebagai guru para remaja ini memberi saya banyak pelajaran hidup. Bukan hanya pelajaran teknis menyampaikan materi atau bagaimana cara membuatassessment, tapi bagaimana sesungguhnya untuk menghadapi mereka, mengerti mereka apa adanya, banyak berdiskusi, meminta pendapat mereka… Saya juga belajar banyak dari orang tua mereka. Beragam pola asuh, membentuk pribadi yang beragam pula. Kepribadian mereka adalah cermin yang sungguh nyata dari cara orangtua mendidik mereka…. kalau ingat hal ini, saya kerap bergidik dan lantas berdoa selalu agar Allah menguatkan saya dan suami untuk mendidik anak-anak kelak di tahapan “rawan” ini…

Kenapa tahapan ini begitu rawan?

Remaja adalah masa pencarian jati diri. Krisis identitas. Masa coba-coba. Mulai mempertanyakan segala hal, namun terkadang untuk menimbang benar dan salah. Terkadang mereka melakukan kerusakan atau menyakiti orang lain dengan alasan iseng, atau bercanda. Moral belum menjadi sesuatu yang patut dijunjung tinggi dalam pikiran sebagian besar remaja.

Ditilik dari perkembangan otak, bagian otak emosi (amygdala) berkembang sempurna pada masa remaja, tapi bagian otak yang berperan untuk mengambil keputusan (prefrontalcortex) masih belum matang. Remaja mengolah informasi dan mengambil keputusan menggunakan amygdala, sedangkan orang dewasa mengambil keputusan dengan mengandalkan PFC. Itulah sebabnya terkadang pilihan yang diambil oleh remaja lebih sering bersifat impulsif, emosional dan tidak jarang, irasional.

Masa remaja adalah masa bergaul. Sebagian besar remaja menganggap teman adalah segalanya. Seperti kisah nyata yang diangkat menjadi film Bond of Silence di atas, kesetiaan dan penerimaan oleh teman-temannya adalah segalanya bagi mereka. Mereka tidak lagi peduli masalah moral, apakah yang mereka lakukan salah atau tidak berdasarkan norma; karena tolak ukur ‘kebenaran’ mereka adalah penerimaan… Beruntunglah remaja-remaja yang menomorsatukan hati nurani, berani berkata yang benar untuk yang benar dan salah untuk yang salah.

Belum lagi jika berbicara masalah konformitas, remaja yang mengidentikkan diri dengan kelompok tertentu; ia merasa mempunyai identitas jika ia sudah memiliki atribut-atributnya. Itulah mengapa berbondong-bondong mereka bergaya rambut ala bintang film Korea, membeli gelang PB tanpa tahu manfaatnya; atau di kalangan remaja berada: tanding Blackberry model mutakhir atau pamer-pameran Ipad.

Masalah pubertas membuat segalanya semakin rumit. Dipandang dari sisi agama, remaja sudah dikenai hukum mulai dari wajib hingga haram, sudah diperhitungkan pahala dan dosanya. Tapi, dulu-duluan baligh ini juga melibatkan proses psikologis tersendiri. Yang terlebih dahulu baligh ada yang merasa superior terhadap temannya, tapi ada juga yang merasa malu dan menarik diri. Belum lagi masalah ketertarikan terhadap lawan jenis yang sudah mulai mendominasi.

Banyak sekali ya, permasalahan remaja ^_^

Tapi ternyata ada sebagian remaja yang tumbuh menjadi pribadi bertanggung jawab. Seperti Laisa, remaja dalam novel Bidadari-Bidadari Surga di atas. Memang fiksi, tapi bukan tidak mungkin ada. Saya juga melihat sendiri sebagian buktinya pada anak-anak didik saya. Sebagian dari mereka ‘selamat’ dalam melewati fase ini dan tumbuh menjadi pribadi berkarakter. Mereka memang berteman, tapi jati diri dan prinsip mereka tak tergoyahkan. Mereka berbaur, tapi tidak melebur. Mereka tau cara menilai yang benar dari yang salah; tahu bahwa kebenaran bukanlah norma ‘kebanyakan’, tapi masalah moral.

Pribadi-pribadi yang kuat, kuncinya memang di pendidikan agama dan keteladanan orang tua. Anak-anak yang sejak kecil dididik dengan agama cenderung lebih sukses dalam melewati fase berbahaya ini. Anak-anak yang melihat contoh dari apa yang mereka dengan tentang ‘akhlak baik yang seharusnya’ dari orang tuanya, akan cenderung meniru.

Anak-anakku; Raihana dan Rifqi, dan mungkin anak-anak ayah dan ibu sekalian,  memang usianya masih jauh dari remaja. Mereka masih balita.. Tapi satu hari, dengan izin Allah, fase ini akan mereka lalui. Anakku, semoga kalian selamat melaluinya… Amin.

Sumber : Asah Asuh.com

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: