Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Sugiyanto 2008: 35).

Dalam Eurasia Journal of Mathematics, Science & Technology Education, 2007, 3(1), 35-39, disebutkan sebagai berikut:

“Cooperative learning is generally understood as learning that takes place in small groups where students share ideas and work collaboratively to complete a given task. There are several models of cooperative learning that vary considerably  from each other” (Slavin, 1995). “Pembelajaran kooperatif secara umum dipahami sebagai pembelajaran yang terjadi dalam kelompok kecil dimana siswa berbagi ide dan bekerja sama menyelesaikan suatu soal. Ada beberapa model pembelajaran kooperatif yang berbeda satu samalainnya”(http://www.ejmste.com/v3n1/EJMSTEv3n1_Zakaria&Iksan.pdf  17/02/2010).

Sedangkan menurut Slavin (1997) pembelajaran kooperatif, merupakan metode pembelajaran dengan siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan heterogen. Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada metode pengajaran, siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar(anwarholil.blogspot.com/pendidikan-inovatif.htm, 06/01/2010).

Berdasarkan definisi – definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif (cooperative leraning) adalah model pembelajaran yang menggunakan kelompok – kelompok kecil dimana siswa dalam satu kelompok saling bekerja sama memecahkan masalah untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak­tidaknya tiga tujuan pembelajaran yang disarikan dalam Ibrahim, dkk (2000:7‑8) sebagai berikut:

1)      Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan sosial, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas‑tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep‑konsep yang sulit. Model struktur penghargaan kooperatif juga telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.

2)      Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latarbelakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas­-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.

3)      Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting karena banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial (anwarholil.blogspot.com/pendidikan-inovatif.htm, 06/01/2010).

Ada banyak keuntungan penggunaan pembelajaran kooperatif. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1)      Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial.

2)      Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, ketrampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan – pandangan.

3)      Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.

4)      Memungkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai – nilai sosial dan komitmen.

5)      Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois.

6)      Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa.

7)      Berbagai ketrampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan.

8)      Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.

9)      Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif.

10)  Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.

11)  Meningkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal atau cacat, etnis, kelas sosial,agama, dan orientasi tugas (Sugiyanto, 2008: 41-42).

About these ads