Sulitnya memahami konsep bilangan ditunjukkan seorang anak berusia 5 tahun memerlukan bimbingan dan pendampingan oleh orang tua (guru). Orang tua dan guru sangat berperan aktif dalam membantu siswa untuk dapat memahami konsep suatu bilangan. Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua dan guru melalui kegiatan yang menyenangkan bagi anak, misalnya melalui berbagai permainan yang berkaitan dengan bilangan. Orang tua atau guru dapat menciptakan berbagai permainan yang dapat mendorong anak untuk belajar menguasai bilangan. Pembelajaran dapat dilakukan bukan hanya di dalam kelas, tapi juga dapat dilakukan di luar kelas, yang penting anak merasa senang dan tertarik dengan kegiatan yang dilaksanakannya yang di dalamnya memuat kemampuan untuk menguasai konsep bilangan. Selain itu orang tua atau guru harus mempertimbangkan tingkat kemampuan atau pemahaman anak terhadap materi yang diberikan.
Piaget dalam teorinya memandang anak sebagai individu (pembelajar) yang aktif. Perhatian utama Piaget tertuju kepada bagaimana anak-anak dapat mengambil peran dalam lingkungannya dan bagaimana lingkungan sekitar berpengaruh pada perkembangan mentalnya. Menurut Piaget (Helena, 2004), anak senantiasa berinteraksi dengan sekitarnya dan selalu berusaha mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya di lingkungan itu. Melalui kegiatan yang dimaksudkan untuk memecahkan masalah itulah pembelajaran terjadi.
Menurut psikologi Piaget, dua macam perkembangan dapat terjadi sebagai hasil dari beraktivitas, yaitu asimilasi dan akomodasi. Suatu perkembangan disebut asimilasi jika aktivitas terjadi tanpa menghasilkan perubahan pada anak, sedangkan akomodasi terjadi jika anak menyesuaikan diri terhadap hal-hal yang ada di lingkungannya.
Pendapat Piaget yang penting, yaitu anak sebagai pembelajar dan pemikir yang aktif, yang membangun pengetahuannya dengan ‘bergulat’ dengan benda-benda atau gagasan-gagasan. Jika kita mengambil gagasan Piaget bahwa anak beradaptasi dengan lingkungannya, kita dapat melihat bagaimana lingkungan dapat menjadi setting untuk perkembangan. Lingkungan menawarkan berbagai kesempatan kepada anak untuk bertindak. Oleh karenanya, lingkungan kelas, misalnya, dapat menjadi ajang kegiatan dan kreativitas yang menyebabkan pembelajaran terjadi.
Berkenaan dengan teori kognitif Piaget mengemukakan tiga cara bagaimana anak sampai pada mengetahui sesuatu. Pertama adalah melalui interaksi sosial, kedua melalui pengetahuan fisik, dan ketiga yang disebut dengan logical mathematical. Kategori ini meliputi pengertian tentang angka, seriasi, klasifikasi, waktu, ruang, dan konservasi. Tipe pengetahuan ini menunjukkan adanya proses mental yang dikaitkan dengan hadirnya benda secara fisik.
Dalam pandangan Piaget, untuk mempelajari sesuatu termasuk konsep bilangan digunakan pendekatan konstruktif. Menurut pandangan konstruktivistik belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan ini harus dibentuk oleh si belajar (siswa sendiri). Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep, dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari.
Dari pandangan ini dapat kita lihat bahwa teori Piaget kurang  melibatkan peran orang dewasa dalam proses pembelajaran, walaupun Piaget mencetuskan tentang social knowledge & social interaction. Piaget  memberikan banyak pengetahuan kepada anak, tetapi kurang kepada orang dewasa, sehingga orang dewasa kurang mengetahui bagaimana cara mengajar anak. Andaikata ada pendampingan untuk orang dewasa, anak akan lebih mudah memahami pembelajaran sehingga dapat berpindah ke tingkat kesulitan selanjutnya.  Piaget lebih  mementingkan anak menemukan sendiri sampai akhirnya dia mendapatkan sesuatu  dari hasil usahanya.  Orang dewasa hanya berperan sejauh memberikan kesempatan  pada anak untuk belajar. Selain itu teori Piaget kurang memberi perhatian pada interaksi sosial dan memori, tahapannya terlalu menekankan pada struktur, egosentris, berpikir logiko-matematis, dan konsep perkembangan tidak menjelaskan perbedaan yang besar pada kemampuan belajar anak, dalam kelompok,  kelas dan budaya.
Berbeda dengan  Piaget,  Vygotsky  dalam  pembelajaran  lebih  menekankan pada penggunaan pendekatan sosial budaya, dimana interaksi merupakan faktor penting dalam perkembangan. Yang mendasari teori Vygtsky adalah pengamatan bahwa perkembangan dan pembelajaran terjadi di dalam konteks sosial, yakni di dunia yang penuh dengan orang yang berinteraksi dengan anak sejak anak itu lahir. Ini berbeda dengan Piaget yang memandang anak sebagai pembelajar yang aktif di dunia yang penuh orang. Orang-orang inilah yang sangat berperan dalam membantu anak belajar dengan menunjukkan benda-benda, dengan berbicara sambil bermain, dengan membacakan ceritera, dengan mengajukan pertanyaan dan sebagainya. Dengan kata lain, orang dewasa menjadi perantara bagi anak dan dunia sekitarnya.
Kemampuan belajar lewat instruksi dan perantara adalah ciri inteligensi manusia. Dengan pertolongan orang dewasa, anak dapat melakukan dan memahami lebih banyak hal dibandingkan dengan jika anak hanya belajar sendiri. Konsep inilah yang disebut Vygotsky sebagai Zone of Proximal Development (ZPD). ZPD memberi makna baru terhadap ‘kecerdasan’. Kecerdasan tidak diukur dari apa yang dapat dilakukan anak dengan bantuan yang semestinya. Belajar melakukan sesuatu dan belajar berpikir terbantu dengan berinteraksi dengan orang dewasa.
Masih menurut Vygotsky “pikiran anak berkembang dalam konteks sosial budaya”. Fungsi mental seperti perkembangan memori, persepsi, proses berpikir merupakan hasil dari interaksi yang konstan dan langsung dengan orang dewasa serta teman-temannya. Vygotsky memperkenalkan istilah  Zone of Proximal Development (ZPD) yang dimiliki setiap anak. Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada pada proses pematangan. Dalam ZPD tersebut terlihat peranan orang dewasa. Anak memerlukan bimbingan orang dewasa sehingga potensinya bisa dioptimalkan. Orang dewasa memberikan dukungan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang akan meningkatkan pemahaman anak tentang apa   yang dipelajarinya. Untuk menafsirkan konsep zona perkembangan proksimal ini dengan menggunakan scaffolding interpretation, yaitu memandang zona perkembangan proksimal sebagai perancah, sejenis wilayah penyangga atau batu loncatan untuk mencapai taraf perkembangan yang semakin tinggi.
Scaffolding adalah bantuan dari orang yang lebih mampu, lebih mengetahui, dan lebih terampil dalam kisaran ZPD dengan tujuan membantu anak memperoleh hasil yang lebih tinggi. Dengan scaffolding tingkat kesulitan masalah yang dipelajari anak tidak berubah menjadi lebih mudah, tetapi akan menjadi tools of mind.
Menurut ZPDnya teori Vygotsky batas bawah adalah tingkat kesulitan sangat rendah sehingga anak  dapat mengerjakan sendiri, batas atas yaitu tingkat kesulitan pada tahap sedang, namun anak membutuhkan  orang dewasa untuk bisa mengerjakan dengan baik, sedangkan di atas batas atas anak tidak mampu mengerjakan tugas meskipun dibantu oleh orang dewasa. Dan anak yang belajar sesuai dengan tahapnya (sesuai dengan ZPD) akan  meningkatkan keberhasilan dalam pembelajaran.
Dari teori Piaget dapat disimpulkan bahwa pembelajaran memang terjadi bertahap, tetapi ini bukan berarti bahwa pembelajaran yang holistik tidak dapat terjadi jika tahap-tahap pembelajaran tersebut tidak dilalui secara sistematis. Dengan kata lain, dalam merencanakan kegiatan belajar mengajar guru bisa saja menyusun materi dari yang paling mudah hingga yang paling sulit menurut versi atau pandangan guru.
Teori Vygotsky tentang Zone of Proximal Development menekankan betapa peran guru sangat dibutuhkan dalam rangka terjadinya pembelajaran yang optimal. Dikatakan bahwa anak atau siswa memiliki kapasitas atau potensi untuk belajar sendiri (seperti teori Piaget), tetapi belajar yang optimal terjadi karena anak mendapat pertolongan dari orang dewasa yang ada di sekitarnya. Pembelajaran terjadi karena adanya interaksi dengan lingkungan sosialnya.
Untuk mengimplementasikan bantuan kesulitan anak pada PAUD dapat  menerapkan beberapa prinsip-prinsip di bawah ini yang perlu diperhatikan oleh pendidik, yaitu:
1.      Rencanakan pengalaman yang nyata sehingga anak dapat terlibat  secara aktif.
2.      Observasi anak agar memahami kebutuhan dan minatnya.
3.      Berikan kesempatan anak belajar sesuai dengan tahapan mereka.
4.      Pendidik sebagai fasilitator, bukan sekedar pemberi pengetahuan.
Beberapa area pengetahuan  tidak dapat diajarkan tetapi harus dialami anak agar anak bisa mempelajarinya.
5.      Berikan anak permasalahan dan konflik untuk memunculkan kemampuan berpikir, akomodasi dan adaptasi.
6.      Merancang aktivitas yang sesuai dengan area perkembangan anak (sesuai ZPD).
Orang dewasa atau anak yang lebih pintar harus menolong anak agar dapat menjembatani kesenjangan antara sesuatu yang telah dipelajari anak dan sesuatu yang potensial yang bisa dimunculkan.
7.      Membuat bermain menjadi kegiatan bermakna. Hubungkan matematika dengan pengalaman sehari-hari.
8.      Bertanyalah kepada anak hal-hal yang menarik.
9.      Doronglah anak  untuk dapat menjelaskan pikirannya melalui kata-kata, gambar, tulisan dan symbol.
10.  Dorong anak untuk berbicara, baik kepada guru maupun anak lain.
11.  Pelajaran berurutan mulai dari enactive (konkrit) sampai pada simbolik.
12.  Bangunlah pembelajaran matematika berdasarkan pembelajaran sebelumnya.
13.  Gunakan model dan benda-benda manipulatif yang berbeda untuk membantu anak mempelajari matematika.
@font-face { font-family: “Cambria Math”; }p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal { margin: 0in 0in 0.0001pt; font-size: 12pt; font-family: “Times New Roman”,”serif”; }.MsoChpDefault { }.MsoPapDefault { margin-bottom: 10pt; line-height: 115%; }div.Section1 { page: Section1; } @font-face { font-family: “Cambria Math”; }p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal { margin: 0in 0in 0.0001pt; font-size: 12pt; font-family: “Times New Roman”,”serif”; }.MsoChpDefault { }.MsoPapDefault { margin-bottom: 10pt; line-height: 115%; }div.Section1 { page: Section1; } 

About these ads