STUDI KASUS

ANAK LAMBAT BELAJAR

DISUSUN OLEH:

SRIYANTO

X7109108

PROGRAM S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah limpahkan rahmat serta hidayah-Nya,sehingga penulis dapat menyusun laporan studi kasus mengenai anak lambat belajar. Laporan studi kasus ini penulis susun guna melengkapi tugas-tugas bagi mahasiswa program S-1 PGSD FKIP UNS tahun ajaran 2009/ 2010 mata kuliah Bimbingan dan Konseling.

Dalam pengumpulan data penulis dibantu oleh berbagai pihak terkait termasuk sesama rekan mahasiswa lainnya. Atas selesainya makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. 1. Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan lancar.
  2. 2. Kedua orang tua penulis yang telah membantu dengan doa sehingga laporan ini selesai.
  3. 3. Drs. Sukarno M.Pd selaku dosen pengajar mata kuliah Bimbingan dan Konseling.
  4. 4. Teman – teman semua yang telah membantu kelancaran pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari dalam penyusunan laporan ini masih banyak kekurangannya. Dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan laporan ini. Akhirnya penulis berharap semoga karya sederhana ini bermanfaat bagi kita semua.

Surakarta,    April 2010

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………..         1

KATA PENGANTAR……………………………………………………         2

DAFTAR ISI……………………………………………………………..          3

BAB I IDENTITAS

  1. Identitas Siswa ……………………………………………………         4
  2. Identitas Orang Tua Siswa ……………………………………….          5

BAB II ISI

  1. Gambaran Masalah ………………………………………………           7
  2. Diagnosis …………………………………………………………           10
  3. Prognosis …………………………………………………………           12

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan ………………………………………………………          16
  2. Saran …………………………………………………………….           16

BAB I

IDENTITAS

A. Identitas Siswa/Klien

º  Dalam penyusunan studi kasus, identifikasi siswa yang berkasus (klien) merupakan tahap awal yang harus dilalui di dalam proses penyusunan studi kasus. Pada saat ini konselor mengamati klien yang mengalami lambat dalam belajar dan terlalu manja. Klien tersebut bersekolah di SDN Kedungwinong 01, Nguter, Sukoharjo sebagai siswa kelas 4 pada tahun ajaran 2009/ 2010. Selanjutnya untuk lebih jelasnya di bawah ini dicantumkan data identitas siswa yang menjadi objek studi kasus :

a) Identifikasi Diri Siswa

*        Nama Siswa          : Septiana Dwi Hastutik

*        Nama Panggilan    : Septi/Dwi

*        Kelas                     : 4 (empat)

*        Tempat/tgl. Lahir : Sragen, 12 September  1999

*        Agama                   : Islam

*        Jenis Kelamin        : Perempuan

*        Alamat                  : Krebet, RT 03/RW 04, Nguter, Sukoharjo

*        Sekolah                 : SDN Kedungwinong 01, Nguter, Sukoharjo

*        Hobby                   : Olahraga

*        Jumlah saudara      : 1 (satu)

*        Anak ke                 : 2 (dua)

b) Keadaan Kesehatan

*        Penglihatan     : Normal

*        Pendengaran   : Normal

*        Pembicaraan    : Agak Cedal

*        Potensi jasmani: Normal

c) Fasilitas Belajar dan Pendukung

1) Kelengkapan belajar

(a) Buku paket            : lengkap

(b) Buku catatan         : lengkap

(c) Ruang belajar        : tidak punya

2) Bimbingan

(a) Dari ayah   : pernah

(b) Dari ibu     : selalu

(c) Dari saudara          : selalu

d) Waktu belajar

1) Waktu belajar siswa kurang teratur.

2) Siswa belajar jika disuruh orang tua.

e) Kelakuan dan prestasi Klien

1) Sikap pada teman        : Cukup baik, tidak membeda-bedakan teman.

2) Sikap pada guru          : Baik, tapi masih merasa segan untuk bertanya.

3) Prestasi                        : Kurang baik/lambat, prestasi rendah.

B. Identifikasi Orang Tua

a) Ayah

*        Nama lengkap             : Sungkono

*        Umur/TTL                   : 39 tahun / Sukoharjo, 7 April 1969

*        Pendidikan                  : SD

*        Pekerjaan                     : Buruh

*        Hubungan dengan anak: Anak kandung

*        Alamat                        : Krebet RT 03, RW 04 Nguter, Sukoharjo

*        Nama lengkap             : Sri Ningsih

*        Umur/TTL                   : 31 tahun / Sukoharjo, 28 Agustus 1977

*        Pendidikan                  : SD

*        Pekerjaan                     : Ibu rumah tangga

*        Alamat                        : Krebet RT 03, RW 04 Nguter, Sukoharjo

C. Perumahan

º  Klien tinggal bersama ayah, ibu dan kakaknya dalam lingkungan desa Krebet RT 03, RW 04 Nguter, Sukoharjo. Dalam lingkungan tempat tinggalnya tersebut hubungan bertetangga cukup bagus. Hal ini mendukung perkembangan sosial klien untuk berinteraksi dengan lingkungan masyarakat di sekitar tempat tinggal siswa berada.

Tingkat pendidikan dan ekonomi masyarakat di desa tempat tinggalnya tergolong menengah kebawah. Sebagian besar warga di daerah tempat tinggal siswa  bekerja sebagai buruh serabutan dan petani.

BAB II

ISI

A. Gambaran Masalah

v  Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.

a)      Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.

b)      Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.

c)      Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.

d)     Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.

e)      Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

Slow learner (Lambat belajar) adalah adalah mereka yang memiliki prestasi belajar rendah (di bawah rata-rata anak pada umumnya) pada salah satu atau seluruh area akademik, tapi mereka ini bukan tergolong anak terbelakang mental. Skor tes IQ mereka menunjukkan skor anatara 70 dan 90 (Cooter & Cooter Jr., 2004; Wiley, 2007). Dengan kondisi seperti demikian, kemampuan belajarnya lebih lambat dibandingkan dengan teman sebayanya. Tidak hanya kemampuan akademiknya yang terbatas tapi juga pada kemampuan-kemampuan lain, dianataranya kemampuan koordinasi (kesulitan menggunakan alat tulis, olahraga, atau mengenakan pakaian). Dari sisi perilaku, mereka cenderung pendiam dan pemalu, dan mereka kesulitan untuk berteman. Anak-anak lambat belajar ini juga cenderung kurang percaya diri. Kemampuan berpikir abstraknya lebih rendah dibandingkan dengan anak pada umumnya. Mereka memiliki rentang perhatian yang pendek. Anak dengan SL memiliki ciri fisik normal. Tapi saat di sekolah mereka sulit menangkap materi, responnya lambat, dan kosa kata juga kurang, sehingga saat diajak berbicara kurang jelas maksudnya atau sulit nyambung.

Gejala-gejala yang Nampak

Gejala-gejala yang nampak jelas pada diri klien diantaranya sebagai berikut:

º  Gejala yang Bersifat Positif

  • Gejala yang bersifat positif adalah sikap atau perbuatan yang dapat membantu dan meningkatkan proses belajar mengajar pada diri klien.
  • Gejala-gejala tersebut diantaranya :
  1. Mematuhi peraturan sekolah
  2. Rajin mengikuti kegiatan sekolah
  3. Tidak suka membolos sekolah
  4. Menurut perintah guru

º  Gejala-gejala yang Bersifat Negatif

  • Gejala yang bersifat negatif adalah sikap atau perbuatan yang kurang baik yang dapat mengganggu proses belajar mengajar pada diri klien.
  1. Gejala tersebut diantaranya :
  2. Sulit memahami materi pelajaran
  3. Bersifat pendiam dan pemalu
  4. Kurang memiliki keberanian dalam berpendapat
  5. Cepat putus asa dalam mengerjakan soal
  6. Bersikap manja
  7. Bertindak semaunya sendiri
  8. Tidak mau meneliti hasil jawabannya

v  PENGUMPULAN DATA

Proses pengumpulan data mengenai siswa yang berkasus (klien) dilakukan dengan berbagai pendekatan. Dalam studi kasus ini pendekatan atau cara yang digunakan oleh konselor dalam rangka pengumpulan data tentang siswa yang bermasalah ialah sebagai berikut:

a)      Berdasarkan Pengamatan di Sekolah

º  Kepribadian

Pribadi klien baik walaupun cenderung mudah putus asa dan kurang teliti dalam mengerjakan sesuatu. Dia selalu ingin semua keinginannya dituruti. Namun siswa tidak pernah  memilih-milih teman.

º  Tingkah Laku

Tingkah laku klien di rumah menunjukkan sikap yang cukup baik. Ia juga sangat patuh terhadap peraturan sekolah. Ia termasuk siswa yang disiplin baik dalam piketnya, datang ke sekolah atau mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah lainnya.

º  Perkembangan Jasmani

Perkembangan jasmani klien cukup baik. Klien memiliki fisik yang normal dan sama seperti teman-teman seusianya, bahkan termasuk anak yang cukup lincah dan energik.

º  Klien patuh dan hormat dengan guru-guru di sekolah.

Dalam kesehariannya, klien terlihat memilki rasa tidak percaya diri untuk mengutarakan isi hatinya ketika ada materi pelajaran yang belum ia pahami. Pada saat guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya klien cenderung untuk memilih diam saja. Ia tidak berani angkat tangan untuk bertanya.

b)      Berdasarkan Wawancara

º   Latar Belakang Keluarga

Berdasarkan wawancara dengan orang tua klien, klien adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh serabutan. Ibunya sebagai ibu rumah tangga. Klien dan keluarganya tinggal di lingkungan desa Pucang, Kabupaten Sragen. Rumahnya tergolong sedang dan sederhana.
Di dalam lingkungan desa tersebut klien tidak mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya, sehingga hubungan bertetangganyapun cukup baik dan akrab.

º  Minat

Minat klien terhadap kegiatan sekolah yang berhubungan dengan masalah pelajaran cukup baik walaupun secara intelektual klien tertinggal dengan teman yang lain-lainnya. Hal ini dapat dilihat dari presensi klien yang tidak pernah membolos dan selalu masuk sekolah.

º  Hobi Siswa

Siswa memiliki hobi bermain voli di rumah maupun sekolah. Kadang waktu luangnya sering dimanfaatkan atau digunakan untuk bermain voli daripada mempelajari kembali pelajaran  yang sudah diterangkan di sekolah.

B. DIAGNOSIS

v  Masalah yang dihadapi siswa SD sangatlah kompleks dan banyak faktor yang dapat menyebabkan timbulnya masalah. Faktor tersebut dapat berasal dari diri sendiri, keluarga atau lingkungan. Begitu pula yang dialami klien. Ada banyak faktor yang menimbulkan masalah pada diri klien, diantaranya adalah sebagai berikut:

a)      Faktor yang Berasal dari Diri Sendiri
a. Motivasi yang kurang
b. Anak kurang mau bekerja keras agar bias dalam pelajaran.
c. Anak tidak mau meneliti kembali hasil pekerjaannya.
d. Anak terlalu manja.
e. Semua keinginanya harus dipenuhi

b)       Faktor dari Lingkungan Keluarga
a. Kurang bimbingan orang tua saat belajar.
b. Terlalu dimanja dengan selalu menuruti keinginan klien
c. Pelanggara-pelangaran klien kurang mendapat teguran dari orang tua.

c)      Faktor yang Bersumber dari Lingkungan

º  Sekolah
Kurang terbuka kepada guru.
Sikap mudah putus asa dalam pelajaran

º  Luar sekolah atau masyarakat
Kurang memanfaatkan waktu luang, waktu hanya digunakan untuk menonton televise dan bermain voli.

v  Dari rincian di atas dapat disimpulkan berbagai hal yang menyebabkan permasalahan pada klien. Permasalahan tersebut berasal dari diri klien sendiri, keadaan keluarga dan lingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap sikap dan daya tangkap belajar siswa.

v  Berdasarkan hal-hal yang dipaparkan di atas, dapat ditarik kesimpulan yang terjadi pada diri klien disebabkan oleh :

a)      Kurang minat belajar.

b)      Bimbingan dari orang tua kurang.

c)      Pengaruh kemajuan teknologi

d)     Anggota keluarga terlalu memanjakannya.

º  Hal-hal tersebut berpengaruh terhadap klien yang menyebabkan klien kurang tertarik pada pelajaran dan malas belajar atau berpikir untuk mengerjakan tugas yang dibebankan kepadanya.

C. PROGNOSIS

v  Untuk mengatasi masalah klien dapat dilakukan beberapa hal, yaitu:

a)      Terhadap Klien

º  Mengajak klien berbincang-bincang mengenai masalah yang dihadapinya sehingga memudahkan konselor untuk megetahui pribadi siswa dan masalah yang sedang dihadapinya serta mempermudah memberikan bantuan dan bimbingan.

º  Memberi bimbingan yang luas pada klien yang berhungan dengan pendidikan sehingga dapat menimbulkan minat dan motivasi untuk meningkatkan semangat belajar dari siswa/klien yang bermasalah tersebut.

º  Memberi pengarahan pada klien bahwa sikapnya yang semaunya sendiri menimbulkan kerugian pada dirinya sendiri maupun terhadap orang lain di sekitarnya.

º  Memberikan pengarahan dan penjelasan agar klien memeperhatikan penjelasan dari guru. Serta tidak mudah menyerah bila mengalami kesulitan belajar.

º  Menasehati klien agar tidak telalu manja pada siapapun terutama kepada kedua orang tua siswa/klien yang bermasalah tersebut.

º  Menasihati klien agar lebih rajin belajar.

b)      Terhadap Orang Tua.

º  Memberikan pengarahan pada orang tua agar tidak terlalu memanjakannya karena hal itu dapat berakibat buruk pada klien.

º  Memeberikan penjalasan pada orang tua agar selalu memeperingatkan klien untuk belajar dan selalu menasihati dan memeberikan dorongan pada klien untuk lebih rajin belajar.

º  Memeberikan penjelasan pada orang tua bahwa mereka harus selalu memeperhatikan dan membimbing anaknya untuk belajar lebih giat agar tidak tertinggal dengan teman-temannya.

º  Memeberikan penjelasan pada orang tua agar menanamkan pada diri klien sikap menghormati dan menghargai orang lain.

c)      Terhadap Teman Klien

º  Menasehati teman-teman klien agar mau memebantu klien bila ada kesulitan dalam belajar.

º  Menasehati teman-teman klien agar mau menegur klien bila melakukan penyelewengan-penyelewengan.

D. TREATMENT

PENYELESAIAN MASALAH JUGA DAPAT DITEMPUH MELALUI

  1. Pemeliharaan sejak dini
  • Bila faktor lingkungan merupakan penyebab utama mundurnya daya ingat dalam berpikir, pencegahan awalnya mungkin dengan mengubah lingkungan masyarakat dan lingkungan belajarnya. Perawatan sejak dini juga akan bermanfaat untuk pencegahan. Dalam suatu penelitian, setiap anak tinggal di dalam kamar yang berbeda dan hidup bersama dengan orang dewasa. Mereka mendapat perawatan yang khusus serta cermat dari para perawat wanita yang berpendidikan rendah. Dari hasil tes IQ terlihat adanya kemajuan. Dari sini dapat disimpulkan perawatan dini dan pemeliharaan secara khusus dapat menolong mengurangi tingkat kelambanan belajar.
  1. Pengembangan secara keseluruhan
  • Usahakan agar anak mau mengembangkan bakatnya sebagai upaya mengalihkan perhatiannya dari kelemahan pribadi yang telah membuat mereka kecewa dan apatis. Pengalaman dalam pelbagai hal akan membuat anak mengembangkan kemampuannya, dan pengalaman yang sukses akan membangun konsep harga diri yang sehat.
  1. Lembaga pendidikan khusus atau umum
  • Suatu penelitian dilakukan untuk membuktikan apakah dalam upaya untuk menolong, anak yang lamban belajar sebaiknya bergabung dalam lembaga pendidikan khusus atau lembaga pendidikan umum. Hasilnya, tidak diperoleh suatu kepastian karena adanya perbedaan pendapat. Kesimpulannya, dari segi nalar tidak ditemukan adanya peningkatan ketika anak berada di lembaga pendidikan khusus. Hasil belajarnya pun tidak lebih baik dibandingkan dengan mereka yang bergabung di lembaga pendidikan umum. Dalam hal pergaulan, mereka yang ada di lembaga pendidikan umum mungkin mengalami perasaan seperti diasingkan oleh teman-temannya, tetapi di sana mereka dapat memiliki harga diri yang lebih tinggi daripada yang mengikuti pendidikan di lembaga khusus. Bagi anak yang lamban belajar, yang terpenting bukanlah di mana mereka disekolahkan, tetapi bagaimana mereka mendapatkan pengaturan lingkungan belajar yang ideal.
  1. Memberikan pelajaran tambahan
  • Sekolah dapat mengatur atau menambah guru khusus untuk menolong kebutuhan belajar anak. Dapat juga dengan menyediakan program belajar melalui komputer. Dengan demikian, mereka dapat belajar tanpa tekanan dan memperoleh kemajuan yang sesuai dengan kemampuan diri sendiri. B.F. Skinner mengatakan bahwa penggunaan mesin mengajar akan sangat bermanfaat bagi mereka. Dewasa ini komputer telah menjadi alat pendidikan yang populer. Gereja atau sekolah dapat menggunakannya untuk mendidik anak yang lamban belajar.
  1. Latihan indra
  • Kesulitan belajar bagi anak yang lamban berhubungan erat dengan intelektualitasnya. Jadi, penting juga untuk memberikan beberapa teknik latihan indra kepada mereka.
  1. Latihan indra

ü  Dengan latihan ini anak dilatih untuk mengenal lingkungan melalui penglihatan, pendengaran, atau perabaan. Misalnya, mengenal benda melalui perbedaan bentuk atau suara. Dengan mata tertutup anak diajak untuk mengenal bentuk, kasar, atau halus suatu benda. Semua latihan tersebut dapat mempertajam indra anak.

  1. Latihan koordinasi

ü  Hal-hal yang termasuk dalam latihan koordinasi ialah menggunting, mewarnai, meronce, mengikat, melakukan estafet, atau gerakan lainnya. Latihan tersebut kemudian disatukan dengan gerakan dalam kehidupan sehari-hari seperti: memakai atau menanggalkan sepatu, menyikat gigi, menyisir rambut, menuang air, dan sebagainya.

  1. Latihan konsentrasi

ü  Melalui latihan ini anak dilatih untuk memerhatikan rangsangan-rangsangan yang ada di luar, melalui permainan, nyanyian, meniru gerakan guru, bermain kartu, atau berkejar-kejaran untuk melatih konsentrasinya.

  1. Latihan keseimbangan

ü  Rasa keseimbangan akan menenteramkan emosi anak dan menolong melatih gerak-gerik tubuh mereka. Misalnya, belajar berbaris, menari, menaiki papan titian, senam irama, dan sebagainya.

  1. Prinsip belajar
  • Semua usaha yang melatih anak untuk meningkatkan daya belajarnya, sebaiknya memerhatikan prinsip dan keterampilan belajar.

a)      Usahakan agar anak lebih banyak mengalami sukacita karena keberhasilannya. Hindarkan kegagalan yang berulang-ulang.

b)      Dorong anak untuk mencari tahu jawaban yang benar atau salah dengan usahanya sendiri. Dengan demikian, anak dapat dipacu semangatnya untuk belajar.

c)      Beri dukungan moril atas setiap perubahan sikap anak agar mereka puas. Kadang-kadang berilah hadiah kepada anak.

d)     Perhatikan taraf kemajuan belajar anak, jangan sampai kurang tantangan dan terlalu banyak mengalami kegagalan.

e)      Lakukan latihan secara sistematis dan bertahap sehingga mencapai kemajuan belajar.

f)       Boleh memberikan pengalaman berulang yang cukup, tetapi jangan diberikan dalam jangka pendek.

g)      Jangan merencanakan pelajaran yang terlampau banyak bagi murid.

h)      Gunakan teknik bahasa yang melibatkan lebih banyak penggunaan indra.

i)        Lingkungan belajar yang sederhana akan mengurangi rangsangan yang tidak diinginkan. Aturlah tempat duduk sedemikian rupa agar mereka tidak merasa terganggu.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Masalah yang dihadapi siswa dalam kasus ini adalah lambat belajar dan terlalu manja karena siswa kurang mendapatkan bimbingan belajar, siswa terlalu dimanja oleh kedua orang tuanya.

B. Saran
Dalam menyelesaikan suatu masalah, haruslah difikirkan dan direncanakan secara matang, langkah-langkah yang ditempuh harus dilakukan dengan sabar, tekun dan berkesinambungan.

a)      Saran kepada Klien

º  Jangan merasa rendah diri tetapi harus merasa yakin terhadap diri sendiri.
Menanamkan dalam diri tentang pentingnya pendidikan bagi kehidupan.
Mengubah pola belajar, sebaiknya belajar secara rutin setiap pulang sekolah dan malam harinya walau hanya sebentar.

b)      Saran kepada Orang Tua

º  Sebaiknya orang tua memberikan perhatian yang lebih kepada klien, terutama perkembangan belajar di rumah.

º  Hendaknya orang tua memberikan perhatian dengan porsi yang tepat tidak hanya kebutuhan fisik saja akan tetapi kebutuhan psikis. Misalnya menumbuhkan rasa percaya diri anak.

º  Hendaknya orang tua memperhatikan kebutuhan social anak dan jangan terlalu memanjakan anak.

c)      Saran kepada Guru

º  Sebaiknya guru memberikan perhatian yang lebih pada klien atas masalah yang dihadapi terutama sakit yang pernah diderita.

º  Guru harus lebih peka terhadap masalah belajar anak didiknya dan memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah.

º  Guru harus lebih sering bekerjasama dengan orang tua klien untuk mengetahui perkembangan belajar klien tersebut.

About these ads